September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

arahbatin.com | Syekh Ibnu Qudamah dengan khusus menulis karya kitab dengan judul at-Tawwabin yang artinya para-para pentaubat, karena memang semua isi kitabnya itu berisikan kisah dan hikmah pertaubatan para nabi, sahabat, tabi’in, hingga orang-orang sholeh sepanjang sejarah Islam yang beliau ketahui.

Diantara kisah yang beliau sadur dan benar-benar terdapat hikmah besar ialah hikayat seorang pemuda yang bertaubat oelh tangan dingin sufi besar Ibrahim bin Adham.

Begitu masyhur nama Ibrahim bin Adham saat itu, sehingga siapa saja tak segan datang bersama meminta nasehat kepadanya. Semua kata yang keluar dari mulutnya bak mutiara mampu menghipnotis semua pendengarnya. Ilmu yang sudah mewujud dalam perilakunya menjadikan sumber pancaran hikmah-hikmah tersebut.

Syahdan, seorang lelaki yang penuh dosa terketuk lubuk hatinya untuk menjumpai Syekh Ibrahim bin Adham. Pemuda tersebut, mengeluh sambil mengadukan semua yang sedang dialaminya. Pemuda tersebut jujur selama ini dia begitu banyak melakukan dosa. juga saat ini dirinya telah merasa letih dengan maksiat yang selalu dia lakukan. Dia ingin taubat dan mengubah hidupnya agar menjadi lebih baik.

“Wahai Syekh, saya adalah seorang pendosa, berikan saya nasihatmu untuk mengingatkan serta membuat jera dari dosa yang selama ini saya lakukan”. Pinta pemuda tersebut kepada Ibrahim bin Adham.

Ibrahim bin Adham pun menjawab: “Wahai pemuda, jika kamu sanggup melakukan lima perkara kamu bebas melakukan maksiat sesukamu”.

Sungguh menggiurkan bukan, si pemuda itupun begitu tertarik hingga bertanya kepada Ibrahim bin Adham. “Apa saja lima perkara itu wahai Syekh?” Tanyanya.

Syekh Ibrahim berucap: “Pertama, jika kamu ingin bermaksiat, kamu harus makanan selain milik Tuhanmu” “Wahai Syekh, bukankah semua makanan hanya milik Allah dan tidak satupun yang memiliki makanan kecuali hanya Allah?” tanya pemuda tersebut.

“Hei pemuda, kalau begitu pantaskah bagi kamu memakan rezeki Allah tetapi kamu tetap bermaksiat kepada-Nya?” timpal syekh Ibrahim. “Tentu tidak wahai syekh” jawab pemuda tersebut sambil meminta syarat yang kedua.

Syekh Ibrahim melanjutkan “Kedua, jika kmu ingin bermaksiat maka kamu harus mencari tempat tinggal yang bukan milik Tuhanmu” dengan nada sedikit keras pemuda tersebut berkata “Wahai syekh, semua isi di dalam dunia ini milik Allah!. Bagaimana aku menemukan tempat tinggal yang bukan milik Allah?” “Kalau begitu, pantaskah kamu memakan makanan dan menempati tanah Tuhanmu lalu kamu bermaksiat kepada-Nya?” jawab Syekh Ibrahim. “Tidak pantas wahai Syekh” timpal pemuda tersebut.

“ketiga, jika kamu ingin bermaksiat maka carilah satu tempat dimana Allah tidak akan melihat kamu melakukan maksiat?”. Pemuda itu menjawab, “Wahai Syekh, bagaimana mungkin Allah tidak tahu, bukankah Allah zat yang maha mengetahui?”. “Jika begitu, pantaskah kamu yang makan makanan-Nya, kamu yang menempati tanah-Nya dan melihat semua aktivitasmu, lalu kau bermaksiat kepada-Nya?” timpal Syekh Ibrahim.

“Keempat, bila malaikat maut datang menjumpaimu, katakan pada malaikat, tolong tundalah sebentar saja ajalku agar aku bisa bertaubat dan melakukan amal saleh”. “Tidak wahai Syekh, malaikat tidak bisa ditawar-tawar, malaikat pasti akan menolakku” timpal pemuda itu. “Jika begitu, bagaimana kau akan selamat, ajal bisa datang dengan tiba-tiba tanpa kau sadari” ucap Syekh Ibrahim.

“Dan yang terakhir kelima, nanti jika kamu berada di hadapan neraka akan diseret ke dalamnya, katakan kepada malaikat Zabaniyyah wahai malaikat, jangan masukkan aku ke dalam neraka, aku takut neraka” pemuda itu pun berkata, “Wahai Syekh, bagaimana mungkin malaikat akan menolong dan mengasihaniku, dia pasti akan memasukkanku ke dalam neraka”. “Lalu bagaimana kamu akan mampu selamat dari neraka?” tanya Syekh Ibrahim. Pemuda itupun berucap “Cukup wahai Syekh, sekarang saatnya saya bertaubat. Tidak ada alasan bagi saya untuk melakukan dosa lagi.”

Di akhir cerita, Ibnu Qudamah mengatakan bahwa pemuda itu akhirnya benar-benar telah bertaubat dan mengubah jalan hidupnya dengan selalu beribadah hingga tutup usia. (at-Tawwabin hal. 168)

Oleh:
YOEKI HENDRA
(Penulis Kolom)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page