September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

arahbatin.com | Mimpi bertemu dengan nabi adalah impian semua umat Muslim, yang teguh keimanananya terhadap ajaran Islam. Berjumpa dengan artis idola saja kita bahagia, apabila bertemu dengan makhluk yang ditahbiskan sebagai makhluk termulia di sisi Allah Swt. Orang yang mimpi bertemu dengan nabi, kata Syekh Yusri, adalah salah satu bukti, bahwa yang bersangkutan berada dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah Swt (fil ‘inâyah warri’âyah).

Pada sebuah hadits sahih yang populer, Nabi memberi kabar gembira, yakni “barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh dia telah melihatku. Karena setan tidak dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhari). Namun, realitanya, tak semua orang beriman bisa memperoleh keberuntungan itu. Bahkan, tegas Syekh Yusri lebih jauh, seorang wali pun belum tentu diberikan keistimewaan bertemu dengan nabi.

Boleh jadi ada seseorang yang terkategorikan sebagai wali, namun dia belum pernah bertemu dengan nabi, baik dalam sadar maupun secara mimpi. Ya, ada wali-wali yang tidak hanya berjumpa dengan nabi dalam mimpi, bahkan mereka bertemu dengan beliau saat keadaan sadar. Namun itu bukan berarti semua wali harus mengalami hal tersebut. Sebab seorang wali tetap menghadirkan nabi dalam jejak langkah kehidupannya. Tanpa bermimpi pun, spirit kenabian sudah hadir pada hati sanubarinya.

Jika para wali saja belum tentu bisa bertemu dengan nabi, apalagi orang-orang yang bergelimang dosa seperti kita. Tidak adanya kesempatan untuk melihat nabi bisa jadi karena kekotoran diri kita sendiri. Mati dan baru bangun dari lelapnya tidur akan merasa silau saat dia dihadapkan dengan sinaran cahaya. Nabi itu cahaya di atas cahaya. Sulit dilihat oleh orang-orang yang tak mampu menatap cahaya itu.

Bagaimana bila suatu saat nanti kita diberikan kesempatan untuk melihat? Syekh Yusri Rusydi memberikan nasihat, agar pengalaman seperti itu tidak diceritakan kepada orang lain, walaupun kepada guru spiritualnya (baca: mursyid) sendiri. Karena, kata beliau, orang yang suka menceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain biasanya akan terhalangi untuk mendapatkan pengalaman itu kembali.

Mengapa bisa begitu? Saat kita menuturkan pengalaman spiritual kita kepada orang lain—Syekh Yusri memberikan alasan—di sana hawa nafsu turut mengambil bagian. Nafsu suka bila orang lain memandang kita istimewa. Saat kita menceritakan pengalaman spiritual kita, ada perasaan, walau sedikit, agar kita dipandang istimewa oleh yang lain.

Lagipula, kalau dipikir-pikir, untuk apa diceritakan? Apakah kita ingin agar orang lain memandang kita istimewa? Apakah dengan bercerita itu kita berharap agar orang lain memandang diri kita sebagai orang yang saleh? Kalau ya, boleh jadi inilah yang bisa menjadi sebab keterhalangan itu.

Sebab itu, kata beliau, cukuplah karunia itu menjadi rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Tak perlu diceritakan kepada orang-orang. Sebab ketika kita menceritakan, akan ada celah di mana nafsu kita mengharapkan perlakuan istimewa dari orang-orang. Saat makhluk memandang Anda istimewa, maka Anda, kata beliau, akan disibukkan dengan mereka.

Lalu ketika Anda disibukkan dengan mereka, maka ketika itu Anda bisa menjauh dari Tuhan Anda. Inilah konsekuensi panjang bila kita lebih mempedulikan pandangan makhluk ketimbang pengabdian kepada Sang khaliq.

Tentu, dengan menyampaikan nasihat ini, tidak berarti bahwa setiap orang yang menceritakan pengalaman spiritualnya berjumpa dengan nabi otomatis pasti bermaksud untuk mencitrakan diri. Adakalanya seseorang menceritakan dengan alasan-alasan tertentu. Dan dia merasa perlu untuk menceritakan hal tersebut.

Tapi, kalau pengalaman itu diceritakan demi mendapatkan sanjungan, pujian dan perlakuan istimewa dari orang-orang, maka itu artinya kita telah mencabut nikmat kita sendiri. Sebab, seperti yang beliau katakan, itu dapat menghalangi kita untuk mendapatkan pengalaman itu kembali. Padahal itu adalah pengalaman yang nikmat. Bukankah kita sendiri tak ingin kalau kenikmatan itu hilang seusai ia datang tanpa diundang?

Muhammad Nuruddin, Lc. lahir di kota Sukabumi, 19 Desember 1994. Menamatkan sekolah dasar di SDN Lembur Tengah Sukabumi (1999-2005). Lalu melanjutkan studi SMP dan SMA di Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang (2005-2011).

Kini masih tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas al-Azhar jurusan Akidah-Filsafat. Aktif menulis di beberapa media online seperti arahbatin dan geotimes tentang tema-tema filsafat, logika, teologi, dan isu-isu keislaman. Buku pertamanya, Ilmu Mantik, diterbitkan oleh penerbit Darusshalih (Mesir) dan Keira Publishing (Depok).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page