September 29, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

arahbatin | Dalam hidup, para sufi sama halnya dengan manusia pada umumnya. Mereka punya perasaan cinta sebagaimana manusia lainnya. Sebagai bukti bahwa seorang sufi juga bisa jatuh cinta ialah kisah Nabi Yusuf alaihis-salam. Itulah satu-satunya kisah cinta yang termaktub dalam Al-Qur’an sebagai teladan bagi umat Islam. Bagaimana tidak, Nabi Yusuf punya segala sarana dan pendukung untuk melakukan maksiat dengan Zulaikha, namun beliau malah menjauh darinya. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana tingkah seorang sufi jika terjerat asmara.

Seorang yang jatuh cinta, potensi melakukan maksiat sangat besar. Dia menghalalkan segala cara untuk selalu bersama dengan orang yang ia cintai. Terkecuali para sufi, mereka punya daya tahan kuat untuk melakukan kemaksiatan saat terjerat asmara.

Salah satu kisah asmara seorang sufi adalah kisah Abdurrahman bin Abi Ammar, sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu al-Jauzi dalam Akhbarun-Nisa’. Abdurrahman sendiri merupakan salah satu tabi’in di kota Makkah yang terkenal ahli ibadah. Saat itu dia jatuh cinta pada Sulamah az-Zarqa’, sahaya dari Sahal bin Abdurrahman bin Auf.

Kisah Abdurrahman bin Abi Amar

Saat itu Sulamah menemui Abdurrahman untuk menyatakan cintanya juga.
“Ingin sekali rasanya menyentuhkan bibirku pada bibirmu,” ucap Sulamah pada kesempatan itu.
“Demi Allah, saya pun juga menginginkan itu.”
“Lalu, kenapa tidak kamu lakukan?”
“Celakalah kamu. Saya mendengar Allah SWT berfirman:

Teman-teman akrab pada hari itu sebagainnya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS az-Zukhruf : 67)

“Saya tak ingin persahabatan kita di dunia justru mengakibatkan permusuhan kita di akhirat,” timpal Abdurrahman.

Lalu ia bergegas pergi meninggalkan Sulamah, sambil menangis menahan ombak asmara di hatinya. Abdurrahman kembali ke dunianya yang sepi dan berusaha menghilangkan bayang-bayang Sulamah. Ia kembali fokus pada ibadahnya.

Abdurrahman sudah memberikan teladan yang cukup luar biasa perihal kekuatannya menahan diri dari godaan asmara yang sudah menguasai hatinya. Dan ia sudah berupaya menggiring rasa cintanya bukan hanya didunia. Tapi dia juga berupaya menggiring cintanya menuju akhirat.

Hingga akhirnya, ia sadar bahwa asmara tak bisa dibiarkan tumbuh jika tak langsung dilanjutkan dengan pernikahan. Maka, satu-satunya jalan untuk selamat ialah dengan menjauhkan diri meskipun harus berperang melawan hatinya sendiri.

Asmara Pemuda yang Takut Kepada Tuhannya

Kisah legendaris cinta, Qais si gila. Beberapa tahun lamanya ia menahan rasa cintanya yang sangat besar pada laila untuk tak terjerumus dalam kemaksiatan sampai keduanya mati karena cinta. Pada akirnya menurut satu riwayat Qais dan laila berhasil bersatu di akirat.

Al-Mubarrid, seorang ulama besar dibidang nahwu pada masa Abbasiyah, berkisah bahwa di kufah pernah ada seorang pemuda yang ahli ibadah dan mujahadah (tirakat). Saat itu ia pertamu ke sebuah desa. Syahdan, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik.

Ia jatuh cinta, sampai seperti gila juga kehilangan akal sehatnya. Si gadis itupun akhirnya merasa iba dan simpati kepadanya. Tanpa terasa, iapun akirnya jatuh cinta.

Si pemuda memberanikan diri mendatangi rumah gadis tersebut untuk meminangnya. Tapi apa boleh buat, sang ayah menolak lamaran tersebut karena ia berencana menjodohkan putrinya tersebut dengan sepupunya. Penolakan sang ayah tentu saja menyisakan suatu yang teramat pedih bagi mereka berdua.

Hingga, suatu ketika, si gadis memberanikan diri untuk bertindak nekat. Ia mengutus orang untuk mendatangi pemuda itu lalu menyampaikan pesan: “Aku mendengar kamu sangat mencintaiku. Begitu pula aku. Kemarilah padaku sekarang, atau aku yang akan menujumu.”

Pemuda tersebut lalu menjawab, “Tak ada yang kupilih.” Ia kemudian membaca ayat:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut adzab hari yang besar hari kiamat, jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS al-An’am : 15).

Ketika si gadis mendengar jawaban pemuda itu, dia bergumam, “Dalam keadaan terjerat asmara, ia masih takut kepada Tuhannya. Demi Allah, semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam melakukan hal ini. Kalau ia bisa, seharusnya aku jpun bisa.”

Meninggalkan Kesenangan Duniawi

Kala itu, sang gadis memutuskan untuk meninggalkan segala kesenangan duniawi dan menghabiskan seluruh waktunya untuk ibadah. Ia begiu terinspirasi dengan kesucian cinta dari pemuda tersebut. Singkat cerita, gadis tersebut akhirnya jatuh sakit karena menahan asmara, hingga tak lama kemudian ia meninggal dunia.

Si pemuda berziarah lalu menangis di atas kuburan gadis itu. Syahdan, pada malam harinya ia bermimpi bertemu dengannya. Ia datang dengan wajah berseri-seri serta memakai gaun yang sangat indah.

“Bagaimana kondisimu sekarang?” tanya si pemuda.

Gadis itu menjawab dengan menggugah sebuah syair:

Cinta terbaik ialah cinta yang ada padamu……. yakni, cinta yang menuntunku pada kebaikan dan kemuliaan.

Kisah cinta sufi di atas sangat penting untuk dijadikan suri tauladan. Bagaimana bisa mereka melawan hatinya sendiri agar tak terjatuh ke lubang kemaksiatan.

Oleh:
Bushiri
(Penulis Kolom)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page