September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

ArahBatin.com | Sufyan berkata, “Cinta itu adalah mengikuti Rasulullah Saw.” Menurut yang lainnya, cinta itu selalu membaca dzikir, memberi kesan kepada yang dicintai, dan menurut sebagian ulama, tidak senang berlama-lama di dunia. Hal itu semua adalah buah dari cinta, belum menjelaskan cinta itu sendiri.

Al-Junaid berkata, “Allah mengharamkan cinta kepada se­se­orang yang sudah mempunyai ketergantungan.”

Dzun-Nun berkata, “Sampaikan kepada orang yang me-nampakkan cinta kepada Allah untuk berhati-hati dari hina karena selain Allah.”

Asy-Syibli pernah diminta pendapatnya tentang orang yang ‘arif (mengenal Allah) dan yang cinta kepada Allah. Ia menjawab, “Orang ‘arif itu apabila berbicara akan rusak. Orang cinta itu apabila diam akan rusak.” Kemudian asy-Syibli melantunkan syairnya,

Wahai Tuhan Yang Mulia
Cinta-Mu bersemayam di antara jiwa
Wahai yang membangunkan tidur dari pejaman matanya
Engkau Maha Mengetahui ke mana hamba berjalan

Suatu hari Rabi’ah al-’Adawiyah berkata, “Siapa yang bisa menunjukkan jalan menuju kekasih kita?” Pembantunya menjawab, “Kekasih kita selalu bersama-sama kita, tetapi dunia selalu menghalang-halanginya.”

Ibnu al-Jala’ r.a. berkata, “Allah Swt. menurun­kan wahyu kepada Isa as., ‘Ketika aku melihat rahasia-rahasia hamba-Ku, aku tidak menemukan kecintaan kepada dunia dan akhirat, maka Aku penuhi dia dengan cinta-Ku, dan aku menjaganya.’”

As-Sarri r.a. berkata, “Barang siapa mencintai ­Allah, niscaya ia hidup. Barang siapa yang condong pada dunia, maka dia tolol dan akan binasa. Sedangkan orang yang berakal adalah orang yang mencari-cari kesalahannya sendiri.”

Allah Swt. sudah memerintahkan untuk mengintrospeksi diri dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Umar r.a. berkata, “Hisablah (menghitung amal) dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah (amalmu) sebelum di­timbang.”

Allah Swt. berfirman, “Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31). Taubat yang dimaksud adalah memperhatikan segala apa yang sudah diperbuat sebelum penyesalan tiba.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah Swt. dan bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”

Diceritakan dari Maimun, dia berkata, “Orang bisa dikatakan bertaqwa kalau mengalkulasi dirinya daripada dikal­ku­lasi temannya. Sedangkan dua orang yang bekerjasama dalam usaha akan menghitung (kalkulasi) apa yang telah me­reka hasilkan.”

Abu Thalhah pernah bercerita, ketika di dalam shalatnya beliau disibukkan dengan kebun. Kemudian beliau merenunginya. Maka beliau menyedekahkan kebunnya itu demi ­Allah, karena merasa menyesal dan berharap sebagai pengganti dari yang telah hilang.

Dalam hadits dari Ibnu Salam, bahwa beliau membawa seikat kayu bakar. Kemudian seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yusuf, Anda sudah tidak kekurangan apa-apa, mengapa masih mengangkut kayu bakar?” Beliau menjawab, “Aku ingin melatih diriku, apakah ia masih mampu?”

Hasan berkata, bahwa setiap orang mukmin bertanggung jawab untuk mengalkulasi amal dirinya demi Allah. Karena hisab Allah akan ringan bagi kaum yang biasa mengalkulasinya di dunia, dan hisab-Nya akan berat apabila mereka melakukan amalnya tanpa kalkulasi. Kemudian beliau menjelaskan tentang muhasabah, beliau berkata, “Seorang mukmin dikagetkan dengan sesuatu yang dikagumi. Ia berkata, demi Allah aku kagum kepadamu. Engkaulah yang aku butuhkan, tetapi sungguh ada penghalang di antara engkau dan aku.” Inilah hisab sebelum amal.

Kemudian melanjutkan penjelasannya, “Ketika ia telah terlanjur melakukan kesalahan, ia mengintrospeksi dirinya, ia berkata, ‘Demi Allah aku bermaksud melakukannya. Demi Allah, aku tidak akan mengulanginya lagi, insya Allah!’”

Anas bin Malik berkata, “Suatu hari, aku bersama Umar bin Khattab r.a. keluar dan memasuki perkebunan. Sewaktu aku dengannya terhalang oleh tembok, aku mendengar beliau berkata, ‘Wahai Umar bin Khattab, Amirul Mukminin, uh…uh…, demi Allah, engkau akan takut kepada Allah atau engkau akan disiksa oleh-Nya.’”

Hasan menjelaskan ayat, “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah [75]: 2), beliau berkata, “Orang mukmin berjalan sambil menyesali dirinya, apa yang dia katakan, dia makan, dan dia minum? Sedangkan orang yang maksiat berlalu begitu saja tanpa menyesali dirinya.”

Malik Bin Dinar berkata, “Allah menyayangi hamba yang berkata kepada dirinya, ‘Bukankah aku temanmu, bukankah aku temanmu?’ Kemudian dia menghinanya dan membungkamnya. Setelah itu dia membimbingnya dengan kitab Allah Swt. Sehingga ia berdiri untuknya.”

Maimun bin Mihran berkata, “Orang yang bertaqwa lebih berat untuk me-muhasabah-i dirinya daripada seorang raja yang lalim, dan daripada teman yang kikir.”

Ibrahim at-Taimi berkata, “Aku membayangkan, di surga me­ma­kan buah-buahannya, meminum dari air sungainya, dan ber­sa­ma perawan-perawannya. Dan aku membayangkan, di neraka memakan Zaqqumnya, meminum nanahnya, dan diikat dengan rantai dan borgolnya. Aku katakan kepadanya (diriku), ‘Wahai diriku, mana yang engkau suka?’ Ia menjawab, ‘Aku ingin kembali ke dunia saja, aku akan berbuat kebaikan.’ Aku berkata, ‘Kamu sedang dalam lamunan, maka berbuatlah kebaik­an sekarang!”

Sahabat Ahnaf bin Qais bercerita, “Aku ber­sama Ahnaf, biasanya dia shalat dan berdoa. Setelah itu, biasanya dia juga bergegas menuju lampu dan meletakkan tangannya di atasnya, sehingga merasakan panasnya api. Kemudian dia berkata kepada dirinya sendiri, ‘Wahai hanif, apa yang menyebabkan kamu melakukan perbuatan ini hari ini, apa yang menyebabkan kamu melakukan perbuatan ini hari ini?’”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page