September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

Awan-awan meniris butiran
Sebelumnya, uap air
Mengembun, gumpalan putih
Hujan.

Payung mekar, menepis
Lelaki itu berlindung.
Doa-doa menabur,
Di depan nisan bertulis.
Derai air mata
Meluruh tangis
Di balik takdir.

Payung berbisik,
Kudengar kekasih-Nya
Merindu malam pengantin
Sebuah pertemuan
Dengan yang Tercinta.
Baginya,
Nisan hanyalah tirai bagi surga,
Yang berada di baliknya.

Payung berbisik,
Kudengar kekasih-Nya
Menyeru “Jiwa tidak dapat bersinar tanpa kesedihan. Bukankah bumi
dapat berbunga indah, saat air hujan menyiram?”

Ungaran, Maret 2022

(*) kutipan Rumi

Chris Triwarseno, lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981. Alumi Teknik Geodsesi UGM. Seorang karyawan swasta yang tinggal di Ungaran, Semarang. Penulis buku puisi Bait-bait Pujangga Sepi, aktif di beberapa komunitas literasi, beberapa karyanya yang lain diterbitkan di media seperti : Suara Merdeka, nadariau.com, negerikertas.com lensalawu.com dll

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page