September 29, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

ArahBatin.com | Diriwayatkan dari dua orang Syekh, Abu Amru Usman al-Shaifaraini dan Abu Muhammad Abdul Haq al-Harimi, mereka berkisah bahwa tatkala kami bersama Syekh Muhyiddin Abdul Qadir al-Jailani di madrasahnya, Ahad, 3 Safar 555 H. Syekh Abdul Qadir al-Jailani berdiri untuk mengambil wudhu dengan memakai terompah kayu dilanjutkan dengan shalat dua rakaat. Ketika selesai shalat, beliau membentak dengan keras sampil melemparkan salah satu terompahnya ke atas hingga lenyap dari pandangan kami. Selanjutnya, beliau melemparkan satu terompah lagi ke atas udara hingga lenyap dari pandangan kami. Kemudian, beliau kembali duduk. Tidak ada seorang pun yang berani menanyakan mengenai penyebabnya.

Setelah lewat dua puluh tiga hari, datanglah ekspedisi dagang dari negeri asing bertandang ke kediaman Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

“Kami mempunyai nazar kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Oleh karena itu, kami bermaksud melunasinya,” kata mereka.

“Ambil nazar mereka,” perintah Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Mereka memberi sapu tangan sutera, pakaian sutera, emas, serta sepasang terompah kayu yang dilemparkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani saat itu.

“Dari mana kalian mendapatkan terompah ini?” tanya kami.

“Ketika hari Ahad, sekitar tanggal tiga bulan Safar kami dicegat oleh gerombolan perampok dengan dua orang Arab sebagai pemimpinnya. Mereka mengambil harta kami hingga salah seorang anggota kami ada yang terbunuh. Mereka menuruni sebuah lembah dan membagi harta kami yang mereka jarah. Sementara itu, kami berjalan di sisi lembah yang lain dan di antara kami ada yang berkata, “Andai kita semua teringat Syekh Abdul Qadir al-Jailani pada saat seperti ini, niscaya kami akan bernazar untuk menyerahkan sebagian harta kami jika kami selamat. Belum sempat kami menyebut namanya, tiba-tiba kami mendengar teriakan yang amat keras yang menggaung di lembah tersebut. Maka, kami melihatnya dengan agak ketakutan. Kami menduga, sekelompok orang Arab menyerang mereka. Ternyata benar, salah seorang berkata, ‘Kemarilah kalian. Ambil harta kalian. Lihatlah apa yang menimpa kedua pemimpin perampok ini. Kami menemukan mereka sudah mati dan di samping mereka terdapat terompah kayu yang masih basah.’ Maka, mereka mengembalikan semua harta kami. Kemudian, mereka berkata, ‘Sungguh ini merupakan peristiwa yang besar.’”
Diriwayatkan dari Syekh Abu Hafash Umar al-Asfihani r.a., ia berkisah bahwa pada suatu malam, ketika aku sendirian, maka terpecahlah tembok pagar dan masuklah seorang yang sangat buruk rupanya.

“Siapa engkau?”
“Aku Iblis” katanya sambil duduk dan tertawa.
“Apa yang engkau tertawakan?”
“Aku akan mengajarkanmu duduk muraqabah.”

Kemudian, laki-laki itu mengambil posisi duduk bersinggung dengan kepala terbalik. Pada saat Subuh, aku mendatangi Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk menuturkan peristiwa tersebut. Tatkala aku bersalaman dengan beliau dan sebelum aku menuturkan peristiwa tadi malam, beliau berkata, “Wahai Umar, percayalah bahwa dia itu tukang bohong. Jangan sekali-kali engkau mene­rimanya kembali untuk selama-lamanya.” Abul Hasan berkata, “Pertemuan itu merupakan pertemuan Syekh Umar selama empat puluh tahun.”

Diriwayatkan pula dari Syekh Abul Hasan al-Baghdadi, ia ber­ki­sah, “Tat­ka­la aku sibuk melayani Syekh Abdul Qadir al-Jailani —saat itu aku be­ga­dang untuk me­me­nu­hi ke­bu­tuh­an­nya. Malam itu bulan Safar tahun 553 H. beliau keluar dari rumahnya. Aku menawarkan teko yang berisi air, namun dia tidak mengambilnya. Beliau terus menuju pintu madrasah dan aku pun membukakannya. Aku keluar bersama beliau. Dalam hati, aku membatin, ‘Tampaknya ia tidak mempedulikanku.’ Kami berjalan hingga sampai di gerbang pintu kota Baghdad, maka aku pun membukakan untuknya dan menutupnya kembali.

Kami berjalan sejenak, tiba-tiba saja kami tiba di sebuah negeri yang tidak aku kenal. Kami memasuki bangunan yang mirip dengan sebuah pemondokan dengan kamar-kamar yang banyak. Di sana, kami menjumpai enam orang. Mereka semua, menyambut dengan mengucap salam disertai dengan berbagai pernghormatan. Maka, kami menginap di sebuah kamar yang ada di bangunan tersebut. Kami mendengar rintihan yang datang dari kamar sebelah. Sejenak kemudian, datanglah seorang laki-laki ke kamar tersebut, kemudian keluar lagi sambil membopong orang yang merintih tadi. Lalu, datanglah seorang yang memakai tutup kepala dan berkumis panjang dan mengambil tempat di sebelah Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Kemudian, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mendengar men-syahadatkan orang tersebut dan memotong rambut serta kumisnya, lalu memakaikan kopyah dan memberinya nama Muhammad. Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata kepada mereka, ‘Aku telah memerintahkan bahwa orang ini sebagai ganti dari orang yang telah mati’” Mereka menjawab, ‘Kami patuh perintahmu.’ Kemudian, kami keluar dari ruangan tersebut, berjalan sejenak, lalu sampailah kita di pintu Kota Baghdad seperti semula. Lalu, kami menuju madrasah dan aku pun membuka pintunya dan beliau masuk ke dalam rumahnya.

Pada keesokan harinya, seperti biasa, aku duduk di sampingnya sambil membaca. Namun, aku tidak bisa membaca karena masih teringat kejadian semalam. Beliau berkata, ‘Mendekatlah kepadaku, hentikan dulu membacamu itu.’ Aku bersumpah untuk mencari tahu tentang kejadian yang aku lihat. Maka, beliau menjawab, ‘Adapun negeri tersebut adalah Nahawand; sedangkan enam laki-laki yang kau lihat itu adalah para wali abdal yang terpilih; sedangkan laki-laki yang merintih itu adalah orang yang ketujuh, dia sedang menghadapi maut dan aku datang untuk menjenguknya. Adapun laki-laki yang dengan memanggul orang, dialah Abul Abbas al-Khidhr. Adapun laki-laki yang aku ambil syahadatnya, dulunya ia seorang Nasrani penduduk Konstantinopel. Aku memerintahkannya agar ia menjadi pengganti dari wali abdal yang wafat itu. Dia didatangkan ke tempat tersebut lalu masuk Islam di hadapanku. Sekarang, orang itu menjadi wali abdal yang ketujuh.’” Perawi hikayat ini berkata, “Beliau menyuruh­ku bersumpah agar aku tidak membeberkan hal ini semasa ia masih hidup.” Wallahu A’lam Bishawab

*Kisah ini disadur dari Buku Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Syafi’i. Keramat Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Keira Publishing.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page