September 29, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ ، وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ

Bisa jadi, Allah memberimu (kesenangan dunia) namun menghalangimu (dari taufik-Nya). Bisa pula Dia menghalangimu (dari kesenangan dunia) namun memberimu (taufik).

“Taufik” maksudnya bimbingan untuk melakukan ketaatan, mendekatkan diri kepada-Nya dan memahami-Nya.

Allah mungkin memberimu sedikit kesenangan dan kenikmatan dunia. Tetapi Dia menghalangimu dari bimbingan-Nya untuk menaati, mendekati, dan memahami-Nya. Dan mungkin Allah menghalangimu dari kesenangan dunia itu, namun dia memberimu bimbingan-Nya.

Halangan Allah kepadamu untuk menikmati syahwatmu dan menikmati kesenangan alam semesta, meski disertai buruknya kebiasaanmu, merupakan karunia yang besar dari-Nya. Karena Allah telah menetapkannya untukmu dan memutusmu dari kepentingan dan tujuan-tujuanmu. Sebaliknya, ketika Allah memberimu kesenangan dunia itu, walaupun secara lahir nampak seperti pemberian, tetapi jangan kau lihat lahirnya saja. Lihatlah kepada hakikatnya. Saat itu, seorang hamba wajib menyerahkan putusan, pengaturan dan pilihan kepada Tuhannya.

مَتَى فَتَحَ بَابَ اْلفَهْمِ فِي اْلمَنْعِ – عَادَ اْلمَنْعُ عَيْنَ اْلعَطَاءِ

Ketika Dia membukakan pintu pemahaman kepadamu tentang mengapa kau tidak diberi, maka hal itu merupakan bentuk pemberian.

Maksudnya, kau paham bahwa tidak adanya pemberian Allah itu adalah sebentuk rahmat-Nya untukmu, karena Allah tahu bahwa dengan tidak memberimu lebih baik bagimu daripada dengan memberimu. Oleh sebab itu, Dia tidak memberikannya kepadamu. Itulah karunia-Nya kepadamu, yaitu pemahaman mengapa kau tidak diberi. Ketika kau tidak diberi, sebenarnya Allah sedang memperlihatkan kuasa-Nya.

اْلأَكْوَانُ ظَاهِرُهَا غِرَّةٌ وَبَاطِنُهَا عِبْرَةٌ، فَالنَّفْسُ تَنْظُرُ إِلَى ظَاهِرِغِرَّتِهَا ، وَاْلقَلْبُ يَنْظُرُ إِلَى بَاطِنِ عِبْرَتِهَا

Alam ini lahirnya berupa tipuan, sementara batinnya berupa pelajaran. Diri (nafsu) melihat kepada lahirnya yang menipu, sementara kalbu melihat kepada batinnya yang menjadi pelajaran.

“Alam” maknanya segala kenikmatan dan pernik-pernik duniawi yang di dalamnya nafsu meraih keuntungannya. Alam membuat jiwa tertipu karena keindahan dan kilauannya. Sedangkan hakikatnya, alam sesungguhnya adalah objek untuk diambil pelajarannya dan dijauhi, karena keburukan, kehinaan dan kefanaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page