September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

Syekh Ibnu ‘Atha‘illah berkata:

إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ

“Menunda beramal guna menantikan kesempatan yang lebih luang, termasuk tanda kebodohan diri.”

Menunda berbuat amal sampai selesainya pekerjaanmu adalah termasuk tanda kebodohan dirimu, karena nafsumu.

Jika ada seorang murid masih lebih mementingkan pekerjaan dunia ketimbang amal akhirat; mendahulukan pekerjaan dunia sehingga mencegah atau menghalangi amal atau beribadah menghadap Allah; atau hendak menunda berbuat kebaikan hingga menyelesaikan pekerjaan dunianya, dan ia bergumam di dalam hatinya “jika aku sudah menyelesaikan pekerjaan ini, maka aku akan melakukan amal (ibadah)”, maka hal ini menunjukkan kebodohan dirinya. Karena, seiring dengan banyaknya penundaan waktu untuk berbuat amal, mengakibatkan tersitanya waktu hingga habislah kesempatannya. Sebab datangnya ajal itu tidak disangka-sangka, dan tidak ada yang tahu kapan ia menjemput nyawa. Di samping itu, karena pekerjaan dunia itu tidak akan ada habisnya, satu pekerjaan akan menarik pada pekerjaan yang lain, jikapun sudah selesai pasti ada kehendak lainnya.

Adapun yang menjadikan kebodohan seseorang itu ada tiga perkara;

Pertama, lebih memilih dunia dari pada berbuat amal akhirat, dan yang seperti ini bukanlah perbuataan orang mukmin.

Kedua, dengan menunda-nunda amal, ia merasa usianya masih tersisa untuk besok, jadilah ia orang yang thulul amal (berangan-angan panjang). Dan thulul amal itu bisa menghalangi untuk bertaubat, menjadikan cinta dunia, tidak mencintai akhirat.

Ketiga, jika sudah menyelesaikan tugas atau pekerjaannya, ia akan mempunyai maksud dan tujuan duniawi yang lain. Dengan begitu keinginannya beribadah menjadi lemah, ia hanya menyia-nyiakan waktu dan merasa mampu menyelesaikan pekerjaan dengan (kekuatan) dirinya sendiri. Hal yang demikian ini menunjukkan rendahnya adab tatakrama kepada Allah. Padahal, seorang murid wajib untuk melakukan sesuatu yang bisa menghantar dirinya ke (hadlirat) Allah, sebelum habis masanya. Karena sesungguhnya waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak menggunakannya, ia yang akan menghunusmu.

Disadur dari buku Syarah Al-Hikam Ibnu Atha’illah: KH. Sholeh Darat. Sahifa. 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page