September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

ArahBatin.com | Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili berkisah tentang perjalanannya dalam menempuh jalan makrifat kepada Allah. Dia berkata, “Pada mulanya, ada semacam keraguan pada diriku, ‘Apakah aku harus diam di tempat untuk hanya mengerjakan ibadah dan berzikir ataukah aku pergi ke berbagai kota dan negara untuk menimba ilmu dari para ulama dan orang-orang terpilih?’

Kemudian ada yang memberitahuku tentang keberadaan seorang wali di puncak gunung, maka pada suatu malam aku mendaki gunung itu dan berkata dalam hati, ‘Aku tak akan menemuinya sekarang’, lalu aku mendengar suaranya dari dalam gua sedang berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya sebuah kaum telah meminta kepada-Mu agar Kau menundukkan makhluk-Mu bagi mereka dan mereka meminta ridha-Mu akan hal itu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu agar para makhluk berpaling dariku, sehingga tidak ada tempat berlindung bagiku selain kepada-Mu.’’

Aku berkata dalam hati, ‘Dari mana syekh itu mendapat ilmu?’ Kemudian ketika pagi datang, aku menemui syekh itu di dalam gua. Aku takut dengan wibawanya dan aku pun bertanya kepadanya, ‘Wahai tuanku, bagaimana keadaanmu?’ Syekh itu menjawab, ‘Aku sedang mengadu kepada Allah dari sejuknya ridha dan penyerahan diri, sebagaimana kau mengadu tentang sulitnya tadbir (mengurusi manusia) dan ikhtiar (usaha menuntut ilmu).’

Aku menjawab kembali, “Pengaduanku tentang sulitnya tadbir telah aku rasakan dan sekarang aku sedang mengalaminya, sedang pengaduanmu tentang sejuknya ridha dan penyerahan, kenapa?’ Syekh itu berkata, ‘Aku takut kelezatannya menyibukkanku dari mengingat Allah.’ Aku berkata, ‘Wahai tuanku, semalam aku mendengar kau berdoa, ‘Ya Allah, aku meminta kepada-Mu agar para makhluk berpaling dariku, sehingga tidak ada tempat berlindung bagiku selain kepada-Mu.’’

Sang Syekh tersenyum dan berkata, ‘Wahai anakku, doa itu lebih baik daripada ketika kau berdoa, ‘Ya Tuhan, tundukkanlah bagiku! Namun katakanlah, ‘Ya Tuhan, jadikanlah untukku! Apa-kah kau melihat, jika sesuatu telah menjadi milikmu, apakah sesuatu itu akan hilang darimu?’”

Apa maksud dari kisah ini?

Imam Al-’Arif Billah, Syekh Abdul Halim Mahmud memandang kisah ini dengan menyatakan, “Kesimpulannya adalah bahwa Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili merasa senang dalam kedekatannya dengan Allah. Allah telah menyinari hatinya dengan cahaya makrifat, dan Dia juga telah mengangkat tabir penutup darinya.”

Bagaimana sesungguhnya sang Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili melihat kesenangan ini? Bagaimana dia berjalan dalam menempuh jalan ini? Dan darimana dia memulai langkahnya? Tetapi yang pasti, kesenangan ini telah membawanya ke dalam suatu perjalanan spiritual, yaitu hijrah kepada Allah; hijrah suatu jiwa yang tunduk kepada Allah; dan hijrah suatu jiwa yang patuh nan jernih.

Perjalanan spiritual Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili berakhir di Baghdad. Ia bertemu dengan para wali. Para wali yang paling tinggi kedudukannya dalam pandangannya adalah Abu al-Fath al-Wasithi. Mengenai wali ini, ia berkata, “Ketika aku mendatangi Baghdad dan bertemu dengan Syekh Saleh Abu al-Fath al-Wasithi, aku tidak melihat seorang pun yang sama sepertinya di Irak.”

Semangat Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili naik memuncak dalam mencari sosok pemimpin para wali itu. Lantas, di mana ia mendapat sosok pemimpin para wali ini?

Suatu ketika, salah seorang wali berkata kepadanya, “Sesung-guhnya kau mencari sosok pe-mimpin para wali di Irak, sedangkan sosok yang kau cari itu ada di negerimu. Kembalilah ke negerimu, maka kau akan mendapatinya. Kemudian, kembalilah sang Syekh hingga sampai daerah bernama Gamarah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page