September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

مَا تَرَكَ مِنَ اْلجَهْلِ شَيْئاً – مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْدُثَ فِي اْلوَقْتِ غَيْرِ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْه

Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya.

Jika hati atau tubuh seorang murîd sedang berada dalam satu keadaan (ahwâl) tertentu, maka ia harus tetap menjaga kesopanan di hadapan Allah dengan merelakan diri untuk tetap berada pada keadaan tersebut sampai Allah sendiri yang memindahkannya dari sana. Dengan satu catatan: keadaan tersebut tidak bertentangan dengan syariat.

Misalnya, jika ia sedang berada dalam keadaan terlepas dari keduniaan (tajrîd), maka ia harus menahan diri untuk terus berada dan rela dalam keadaan tersebut sampai Allah sendiri yang memindahkannya ke keadaan yang lain. Jika tebersit di hatinya keinginan untuk mencari penghidupan (kasab), maka itu artinya ia tidak sopan kepada Tuhannya. Karena ia sudah menolak keadaan yang dikehendaki-Nya untuknya. Demikian pula, seorang murîd dianggap tidak sopan terhadap Tuhannya, jika ia sedang berada dalam satu pekerjaan namun ingin pindah ke pekerjaan lain, atau sedang berada dalam keadaan miskin namun ingin menjadi kaya.

Empat puluh tahun silam, seseorang berkata kepadaku, “Bila Allah menempatkanku pada satu kondisi (ahwâl), tidak pernah sedikit pun aku kesal. Dan bila Dia memindahkanku ke kondisi lain, tidak pernah sekali pun aku menolaknya.” Ungkapan ini adalah buah dari ilmu dan pengetahuan (makrifat) tentang Allah dan ketuhanan-Nya.

Jika seseorang membenci keadaan dirinya saat ini, lalu ia ber-sikukuh ingin pindah dari keadaan itu dan menghendaki keadaan lain yang berbeda dengan apa yang ditampakkan Allah kepadanya, maka itu artinya ia tidak mengenali Tuhannya sama sekali, dan sudah bersikap tidak sopan terhadap-Nya. Dan ini adalah tindakan menentang “hukum waktu” yang diisyaratkan oleh kaum sufi. Bagi kaum sufi, menentang “hukum waktu” merupakan dosa paling besar.

إِحَالَتُكَ اْلأَعْمَالَ عَلىَ وُجُوْدِ اْلفَرَاغِ – مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ

Menunda amal karena menunggu waktu yang luang termasuk tanda kebodohan.

Halaman 1 2 3 4 5 6 7

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page