September 27, 2022
Bagikan di akun sosial media anda

Arah Batin | Allah Swt. berfirman, “Dan jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah, ‘Cukuplah bagiku; tiada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki arasy yang agung.’” (QS. At-Taubah [9]: 129)

Rasulullah Saw. telah melaksanakan ajaran tawakal tersebut, hingga ia disebut sebagai “orang yang tawakal” (mu­tawakkil) di dalam Taurat dan kitab lainnya. Tawakal adalah salah satu cabang tauhid dan pengetahuan akan Tuhan. Rasulullah adalah pemimpin orang-orang yang tawakal, ketua orang-orang yang ma’rifah. Tawakal tidak kemudian menafikan usa­ha, seperti yang sering disalahartikan. Usaha juga diperintahkan. Seorang Badui berkata kepada Rasulullah, “Apakah aku akan mengikat untaku atau kubiarkan begitu saja dan aku tawakal (kepada Allah)?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ikat untamu lalu bertawakallah!”

Baca juga: Sayyid Muhammad Al-Maliki: Doa Dari Rasulullah ﷺ Agar Dunia Mengejarmu

Rasulullah berkata, “Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya tawakal, niscaya Allah akan melapangkan rezekimu, seperti burung—yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang malam dalam keadaan kenyang.” Hadits ini menjelaskan usaha dengan kata-kata ‘pergi di pagi hari’.

Sebuah cerita, bahwa Ibrahim bin Adham bertemu dengan Syaqiq al-Balkhi di Mekkah. Ibrahim berkata kepada Syaqiq, “Bagaimana awalnya hingga kamu bisa mencapai (posisi) se­perti sekarang ini?” Syaqiq menjawab, “Aku menjelajahi daratan dan kulihat seekor burung yang patah sayapnya di sebuah kawasan. Aku berkata, ‘Coba lihat. Dari mana ia akan mendapatkan makanan!’ Maka aku duduk di dekatnya.

Selanjutnya kulihat seekor burung datang dengan paruh penuh makanan lalu menyuapi burung yang patah sayapnya itu dengan paruhnya. Aku berkata kepada diriku, ‘Dzat yang memerintahkan burung ini membawa makanan kepada burung yang patah sayapnya ini pasti akan memberikan rezeki kepadaku di mana pun aku ber­ada.’ Aku pun meninggalkan bisnis dan berkonsentrasi kepada ibadah.” Ibrahim berkata, “Mengapa kamu tidak ingin menjadi burung yang sehat dan memberikan makan untuk burung yang sakit, agar kamu menjadi lebih utama? Tidakkah kamu mendengar Nabi bersabda, ‘Tangan di atas lebih utama dari tangan di bawah?’

Dan salah satu dari tanda-tanda orang mukmin adalah upayanya mencari yang terbaik dalam segala sesuatu, hingga ia mencapai tingkatan orang-orang baik (abrar).” Sya­qiq seketika menjabat tangan Ibrahim dan menciumnya. Ia ber­kata, “Engkau adalah guru kami, wahai Abu Ishaq.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

You cannot copy content of this page