February 21, 2024
Bagikan di akun sosial media anda


Terkadang kesedihan akan membuat seseorang diberi pahala oleh Allah Swt. dan dia akan mendapatkan pujian. Jika demikian, maka dari sudut pandang ini (dia mendapatkan pahala dan pujian. red.), bukan dari sudut pandang kesedihannya, dia adalah termasuk orang yang terpuji, sebagaimana seseorang yang merasa sedih karena amalan agamanya tidak bisa ia laksanakan dan juga rasa sedih atas musibah yang menimpa kaum muslim secara umum. Oleh karenanya, dia akan men-dapatkan pahala atas sepercik rasa cinta dalam hati orang tersebut dan membenci terhadap kejelekan serta hal-hal lain yang diakibatkan dari kedua perasaan tersebut. Akan tetapi kesedihan yang mengakibatkan seseorang meninggalkan hal-hal yang telah diperintahkan kepadanya, seperti kesabaran, perjuangan dan menarik manfaat serta mencegah bahaya. Maka dari itu, Allah telah melarangnya, dan jika dia tidak sampai meninggalkan perintah-perintah Allah, maka pahala kesedihannya tergantung pada sejauh ­mana dia menghayati kesedihan yang sedang menimpanya.

Baca juga: Sayyid Muhammad Al-Maliki: Doa Dari Rasulullah ﷺ Agar Dunia Mengejarmu

Adapun ketika kesedihan tersebut melemahkan hati seseorang dan dia larut dalam kesedihannya sampai dia meninggal-kan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kesedihan yang demikian adalah tercela, meskipun dari segi lain ungkapan kesedihan merupakan hal yang terpuji.

Adapun cinta, tawakal, ikhlas kepada Allah dan amal-amal batin lainnya, semua itu adalah amal-amal batin yang benar-benar terpuji dan termasuk amal kebaikan yang dicintai oleh setiap orang dari golongan para Nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada dan orang-orang yang shaleh. Dan barangsiapa yang berpendapat bahwa sesungguhnya tingkatan-tingkatan tersebut (cinta, tawakal dan lainnya) hanya dimiliki oleh orang awam bukan orang-orang khusus (ahli tarekat, sufi dan lainnya), pendapat tersebut adalah salah, jika dia telah mengecualikan orang-orang khusus dari orang awam. Sebab, sesungguhnya dalam masalah tingkatan-tingkatan tersebut sama sekali tidak mengecualikan mu`min dari kelompok manapun, akan tetapi ia hanya mengecualikan orang yang kafir atau munafik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page