February 20, 2024
Bagikan di akun sosial media anda

Al-Imam Abu Nuaim Al-Ashfahani dalam karyanya Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Asyfiya’ (Juz, 1 Hlm. 197) mengutip ungkapan Syekh Sahal Al-Tustari yang berkaitan dengan ruang lingkup hijrah. Adapun kutipannya sebagai berikut:

قال سهل بن عبد الله التستري رحمه الله : الهجرة فرض إلى يوم القيامة، من الجهل إلى العلم، ومن النسيان إلى الذكر، ومن المعصية إلى الطاعة، ومن الإصرار إلى التوبة

Syekh Sahal bin Abddullah Al-Tustari berkata: “Berhijrah itu wajib sampai hari kiamat; dari kebodohan menuju ilmu, dari lupa menuju dzikir atau ingat Allah, dari maksiat menuju tha’at, dari membiasakan berbuat dosa menuju taubat”.

Baca juga: Sayyid Muhammad Al-Maliki: Doa Dari Rasulullah ﷺ Agar Dunia Mengejarmu

Dari pernyataan Syekh Sahal Al-Tustari di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa arti hijrah itu sangat luas, dan yang paling penting dalam mengimplementasikan hijrah yaitu harus mengamalkan empat perkara. Adapun empat perkara tersebut yaitu:

Pertama, hijrah dari kebodohan kepada ke ilmuan atau pengetahuan. Kebodohan adalah kegelapan dalam menjalani kehidupan, orang yang bodoh sangat mudah melakukan larangan dan mudah digoda oleh setan. Mudah bagi setan untuk menjerumuskan orang yang bodoh kepada jalan kesesatan, berbeda dengan orang yang berilmu, bagi setan sangat sulit untuk menjerumuskannya. Oleh karena itu, untuk menjalani hijrah dari segala larangan kita harus berilmu, tidak cukup hanya hijrah secara zahir saja.

Kedua, hijrah dari lupa mengingat Allah dengan memperbanyak dzikir. Tujuan dzikrullah adalah agar kita dapat menjauhi lalai kepada Allah, karena lalai akan mendorong kita kepada kemaksiatan. dan dengan berdzikir membantu kita untuk meninggalkan kemaksiatan.

Halaman 1 2 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page